Bank Indonesia (BI) mencatat kredit UMKM terkontraksi hingga 0,3% secara tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025, tercatat rendah sejak Juli 2025. Pada bulan tersebut, pertumbuhan kredit UMKM tercatat masih 1,82% dan turun signifikan menjadi hanya 1,3% pada Agustus 2025. Pertumbuhan kredit UMKM ini terus turun dan terkontraksi hingga akhir tahun. Sejalan dengan itu, pangsa pasar kredit UMKM terhadap total kredit perbankan terus tergerus. Pada akhir 2025, pangsa pasar kredit UMKM tercatat sebesar 17,49% atau turun jika dibandingkan 19,24% pada 2024 dan 20,55% pada 2023. Hal ini menjadi sorotan BI.
Departemen Kebijakan Makroprudensial Alexander Lubis mengungkapkan sejak pandemi Covid-19, sektor UMKM ternyata belum sepenuhnya pulih. Sektor ini diwarnai oleh peningkatan risiko kredit. Per Oktober 2025, nonperforming loan (NPL) UMKM berada di level 4,51%. Hal ini mempengaruhi penyaluran kredit di sektor UMKM. Melihat kondisi ini, Alexander mengungkapkan BI pun menginisiasi Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Program PINISI meliputi penguatan transmisi kebijakan makroprudensial BI, bridging program pasokan likuiditas dan mendorong permintaan kredit, debottlenecking kredit atau pembiayaan sektor prioritas, serta membangun sinergi efektif dengan kementerian/lembaga (K/L) dan pelaku industri, serta meningkatkan optimisme pelaku usaha dan masyarakat. BI sudah memetakan berbagai program PINISI yang akan dijalankan per kuartalnya pada tahun ini. Pada kuartal I, BI akan melakukan kick off PINISI dan dilanjutkan dengan sinergi pada kuartal II, kemudian a road to harvesting pada kuartal III dan harvesting program PINISI pada kuartal akhir 2026. Sektor yang akan disasar PINISI a.l. perumahan, ketahanan dan hilirisasi pangam pertanian, MBG, industri dan hilirisasi SDA.
