Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Kamis (5/2/2026) menyerukan pembentukan perjanjian nuklir baru setelah kesepakatan terakhir dengan Rusia resmi berakhir. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran global akan munculnya perlombaan senjata baru karena hilangnya batasan hukum pada dua kekuatan nuklir terbesar dunia tersebut. Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap pakta New START yang sebelumnya ditandatangani oleh Barack Obama dan diperpanjang oleh Joe Biden. Ia mengeklaim bahwa perjanjian lama tersebut merupakan hasil negosiasi yang lemah dan tidak lagi dipatuhi oleh pihak lawan.
Kandasnya perjanjian ini memicu peringatan serius dari para pakar kontrol senjata internasional. Mereka mendesak agar kedua negara tetap menahan diri guna menghindari ketidakstabilan keamanan yang dapat mengancam perdamaian dunia. Di sisi lain, NATO mengecam sikap Rusia yang dianggap tidak bertanggung jawab dalam mengelola aset nuklirnya. Aliansi militer pimpinan AS ini menyatakan akan bersiap mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk menjaga pertahanan mereka.
Terkait desakan AS agar China ikut masuk ke dalam perjanjian baru, Beijing secara tegas menyatakan penolakannya. China berdalih bahwa kekuatan nuklir mereka tidak berada dalam level yang sama dengan AS maupun Rusia sehingga tidak relevan untuk ikut dalam pembicaraan pelucutan senjata saat ini. Kritik juga datang dari pengamat domestik yang menilai pemerintahan Trump belum melakukan langkah konkret untuk membujuk China ke meja perundingan sejak kembali ke Gedung Putih.
