Inflasi diproyeksikan meningkat cukup tajam pada Januari 2026 secara tahunan akibat tekanan harga emas, meski secara bulanan diperkirakan mereda terutama akibat normalisasi harga tiket pesawat usai libur akhir tahun. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro memprakirakan tingkat inflasi pada Januari 2026 akan meningkat secara tahunan (year on year/YoY) ke level 3,77%. Level itu lebih tinggi dari realisasi Desember 2025 yang sebesar 2,92% YoY maupun Januari 2025 yang hanya 0,76% YoY. Sebaliknya secara bulanan (month on month/MoM), Asmo memperkirakan IHK akan mencatatkan inflasi tipis sebesar 0,06% mom. Angka ini melandai signifikan dibandingkan inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,64% MoM.
Asmo merincikan bahwa kelompok harga bergejolak (volatile food) diperkirakan berbalik mengalami deflasi, dipicu oleh koreksi tajam pada harga cabai rawit yang turun sekitar 27% MoM, diikuti oleh penurunan harga bawang merah sebesar 13% MoM. Sejalan, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) juga diperkirakan mencatat deflasi ringan. Asmo mencatat harga bahan bakar non-subsidi turun rata-rata sebesar 6%, sejalan dengan tarif angkutan udara yang diproyeksi turun 10,6% menyusul berakhirnya puncak permintaan perjalanan liburan. Di sisi lain, inflasi inti (core inflation) diprediksi mengalami percepatan secara bulanan di tengah ketidakpastian global yang tinggi yang mengerek harga emas.
