Surplus Dagang Diproyeksikan Melonjak ke US$6,8 Miliar pada Desember 2025

Surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan akan berlanjut pada Desember 2025 atau 68 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro memprakirakan neraca perdagangan pada Desember 2025 akan mencatat surplus US$6,8 miliar. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan surplus pada bulan sebelumya di level US$2,7 miliar.

Asmo menjelaskan bahwa pelebaran surplus dagang tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang terakselerasi menjelang akhir tahun, yang pada saat bersamaan impor justru mengalami penyusutan. Dia merinci bahwa kenaikan ekspor didorong oleh permintaan yang membaik terhadap komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, serta besi dan baja, khususnya dari China. Dari sisi harga, lanjutnya, komoditas besi dan baja mencatatkan kenaikan harga sekitar 5,8% MtM atau 31,8% YoY. Kendati demikian, harga komoditas lainnya secara umum cenderung menurun meskipun permintaan tetap solid.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor ke China melesat tajam sebesar 25,7% YoY, disusul ekspor ke Singapura yang tumbuh 20,2% YoY, dan Malaysia sebesar 11,5% YoY. Sebaliknya, kinerja impor diproyeksikan terkontraksi sebesar 9,7% YoY atau turun 2,2% secara bulanan pada Desember 2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh rendahnya impor barang modal dan bahan baku, sejalan dengan perlambatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang mencerminkan melemahnya pesanan baru.

Search