Banjir Bandang dan Cuaca Panas Picu Krisis Air Bersih di Kota Padang

Kombinasi bencana banjir bandang dan cuaca panas memicu krisis air bersih yang meluas di Kota Padang, Sumatera Barat. Fenomena ini menyebabkan sumur galian warga mengering dan mengganggu sektor pertanian. Berdasarkan laporan warga, krisis air bersih mulai dirasakan secara bertahap sejak awal Desember 2025 hingga Rabu (28/1/2026). Awalnya, gangguan pasokan air terjadi di dua wilayah utama, yakni Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Pauh.

Wali Kota Padang, Fadly Amran, menjelaskan bahwa krisis ini merupakan dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi (banjir bandang) yang sebelumnya melanda. Bencana tersebut menyebabkan pergeseran aliran sungai dan kerusakan pada jaringan irigasi. Guna mengatasi masalah ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Padang memprioritaskan percepatan pemulihan saluran irigasi Gunuang Nago. Proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek untuk mengisi kembali cadangan air tanah.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyebutkan bahwa faktor cuaca panas dalam beberapa pekan terakhir turut memperburuk keadaan. Saat ini, krisis air bersih telah meluas ke tiga kecamatan lainnya. Hingga saat ini, total ada 5 dari 11 kecamatan di Kota Padang yang terdampak kekeringan.

Search