BI Masih Buka Peluang Turunkan Suku Bunga, Inflasi Inti Tetap Rendah

Bank Indonesia (BI) masih membuka peluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan atau BI rate ke depan. Ruang pelonggaran tersebut didukung oleh inflasi inti yang tetap rendah serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar lebih kuat. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dalam merumuskan kebijakan moneter, bank sentral selalu mempertimbangkan tiga indikator utama, yakni inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi. Dari ketiganya, inflasi inti menjadi indikator fundamental karena mencerminkan kemampuan kapasitas ekonomi dalam memenuhi permintaan. Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat 2,38%. Angka ini relatif rendah karena masih di bawah titik tengah sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%.

Menurut Perry, rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi nasional masih lebih besar dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi saat ini. pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah potensi tersebut justru menahan tekanan inflasi inti. Kondisi ini sekaligus membuka ruang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna mendorong aktivitas ekonomi. Sejalan dengan kondisi tersebut, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025. Sejak September 2024 hingga Januari 2026, BI rate telah dipangkas hingga berada di level 4,75%.

Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, memperkirakan BI masih akan melanjutkan pelonggaran suku bunga pada 2026. Panjul memproyeksikan BI akan menurunkan suku bunga hingga total 75 basis poin pada kuartal I hingga III-2026, sehingga BI rate berpotensi turun ke level 4%.

Search