Di tengah kondisi politik yang serba instan dan bergantung pada fluktuasi angka survei mingguan atau pro kontra diskursus di media, Megawati Soekarnoputri menunjukkan posisi anomali yang membaca kondisi dengan cara yang berbeda. Posisi Megawati Soekarnoputri merepresentasikan konsep yang mulai langka dalam praktik kekuasaan kontemporer yakni berorientasi pada jangka panjang. Kekuasaan bukan hanya sekedar peristiwa teknis yang terputus namun sebuah proses sejarah yang melebih siklus lima tahunan.
Memahami cara berpikir Megawati membutuhkan kesediaan untuk melepaskan pola pikir pragmatisme instan yang saat ini mendominasi ruang publik. Walaupun terkesan lamban atau tidak responsif di tengah tuntutan zaman yang serba instan, ketenangan dan kesabaran dalam mengambil keputusan tersebut merupakan hasil dari keyakinan pada ketahanan struktural. Pilihan ini merupakan bentuk investasi pada integritas institusi. Kekuatan politik tidak hanya diukur dari seberapa sering berada dalam lingkaran kekuasaan melainkan seberapa teguh memegang mandat organisasi saat berada di luang lingkaran kekuasaan.
Sementara itu, tren global menunjukkan bahwa demokrasi cenderung mengalami penyempitan makna saat pemimpin hanya berpikir tentang kemenangan elektoral jangka pendek. Sehingga kebijakan publik yang dihasilkan sering kali bersifat populis dan tidak memiliki fondasi struktural yang kuat. Seharusnya politik mampu menjawab tantangan milenialisme dan digitalisasi yang mengutamakan kecepatan akses tanpa harus mengorbankan kedalaman berpikir. Kepastian hukum menjadi sebuah kebutuhan utama dengan mempertimbangkan inklusivitas dalam pengambilan keputusan.
Megawati merupakan sosok yang mengambil peran bak kurator sejarah yang menentukan elemen mana dari masa lalu yang relevan untuk dihidupkan dalam konteks kekinian yang kompleks. Kehadiran pemimpin yang berani mengambil keputusan sulit, meski tidak populer menjadi vital bagi kestabilan negara hukum.
Untuk itu diperlukan kebijaksanaan untuk memahami bahwa stabilitas dan perubahan tidak harus saling menegasikan, namun melalui harmoni keduanya, lahirlah peradaban politik yang berkembang.
