Seruan boikot Piala Dunia 2026 menguat di Inggris setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman terkait Greenland dan mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris. Desakan tersebut datang lintas partai, dari Konservatif, Buruh, hingga Liberal Demokrat. Anggota parlemen senior Konservatif Simon Hoare menjadi salah satu suara terdepan yang mendorong pemerintah Inggris mengambil langkah keras, termasuk mempertimbangkan boikot Piala Dunia yang akan digelar di AS, Kanada, dan Meksiko pada musim panas ini. Hoare juga mengusulkan agar kunjungan kenegaraan Raja Charles ke AS dibatalkan sebagai bentuk tekanan diplomatik.
Desakan boikot semakin meluas setelah Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 10% terhadap Inggris, yang akan naik menjadi 25% mulai 1 Juni, kecuali tercapai kesepakatan terkait upaya Washington mengambil alih Greenland dari Denmark. Kebijakan serupa juga ditujukan kepada Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, dan Finlandia. Piala Dunia FIFA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli, dengan 16 kota tuan rumah, 11 di AS, tiga di Meksiko, dan dua di Kanada.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan penolakannya terhadap tarif Trump. Dalam konferensi pers darurat, ia menyebut kebijakan tersebut “sama sekali salah” dan memperingatkan bahwa tekanan ekonomi bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan perbedaan dalam aliansi. Delapan negara NATO yang terdampak bahkan mengeluarkan pernyataan bersama, memperingatkan bahwa langkah Trump berpotensi menciptakan “spiral penurunan yang berbahaya” dalam hubungan transatlantik.
