Amerika Serikat mengumumkan peluncuran fase kedua gencatan senjata di Jalur Gaza, yang disebut untuk mengakhiri genosida Israel terhadap warga Palestina. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, mengatakan menurut rencana yang tertuang dalam 20 poin rencana perdamaian Gaza, fase kedua ini akan mengarah ke proses demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi. 20 poin rencana perdamaian Gaza juga mencakup pembentukan “Dewan Perdamaian” yang diketuai oleh Trump. Proposal itu juga mencakup pengerahan pasukan stabilitas internasional untuk mengawasi keamanan di Gaza.
Mantan utusan PBB untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov, akan menjabat sebagai Direktur Jenderal “Dewan Perdamaian” di Jalur Gaza. Berdasarkan rencana Trump, Dewan Perdamaian ini akan mengawasi pemerintahan teknokrat Palestina yang baru, pelucutan senjata Hamas, pengerahan pasukan keamanan internasional, penarikan mundur pasukan Israel, dan rekonstruksi Jalur Gaza yang hancur akibat perang. Trump diperkirakan bakal mengumumkan penunjukan anggota dewan pekan depan. Ada pun negara-negara yang diperkirakan akan bergabung dengan dewan itu antara lain Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Turki.
Ahli politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mempertanyakan bagaimana rencana yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang di Gaza bakal berhasil. Menurutnya, proses tersebut dicurangi demi menguntungkan Israel. Dia menyebut kebebasan dan hak-hak warga Palestina juga hingga kini sebagian besar telah diabaikan. “Israel tidak tertarik untuk meninggalkan Gaza, AS tidak tertarik untuk menekan Israel. Jadi saya pikir pada fase kedua, kita akan terjebak (di sana) untuk waktu yang sangat lama, sangat lama,” imbuhnya.’
