rogram Sekolah Rakyat yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto kini menjadi wajah nyata kebijakan pendidikan yang berpihak kepada masyarakat marjinal. Program ini tidak hanya hadir sebagai akses pendidikan gratis, tetapi juga sebagai implementasi dari salah satu misi penting Asta Cita. Tepatnya poin nomor 4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM). Program Sekolah Rakyat dirancang untuk membuka pintu pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang berada di kategori kemiskinan ekstrem (desil 1 dan 2).
Salah satu isu kunci yang muncul dalam diskusi publik adalah pentingnya kurikulum non akademik di Sekolah Rakyat. Kurikulum ini dilengkapi dengan pendidikan karakter untuk siswa. Menteri Sosial RI (Mensos) Saifullah Yusuf menyebut pihaknya tidak merekrut guru pendidikan karakter, melainkan Kemensos dibantu oleh Kementerian Agama RI.
Kurikulum semacam ini dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya di komunitas marginal, sesuatu yang selama ini sering menjadi ‘lubang’ dalam pendidikan konvensional. saat ini Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 lokasi dengan daya tampung 15.820 siswa yang terbagi dalam sekitar 638 rombongan belajar. Penyelenggaraan pendidikan tersebut didukung oleh 10.500 guru serta 4.442 tenaga kependidikan.
