Volume produksi jagung diproyeksikan akan menembus 2 juta ton per bulan pada kuartal pertama 2026, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Maret 2026. Prediksi ini didukung ramalan Badan Pusat Statistik yang menyebut produksi Januari-Februari 2026 mencapai 3,14 juta ton.
Proyeksi panen yang melimpah didukung oleh curah hujan tinggi pada musim tanam, sehingga meminimalkan potensi gagal panen. Kondisi ini menjadi faktor krusial mengingat mayoritas lahan pertanian jagung tidak memiliki jaringan irigasi. Dengan stok akhir tahun lalu yang besar dan proyeksi produksi yang tinggi, pemerintah memastikan tidak ada impor jagung untuk pakan, benih, maupun rumah tangga pada 2026. Bahkan, kondisi ini membuka potensi ekspor jagung sekitar 52.900 ton.
