Venezuela dilaporkan kembali menahan sejumlah warga Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan militer dan ekonomi Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Penahanan itu terjadi dalam beberapa bulan terakhir, sejak pemerintahan Presiden Donald Trump memulai kampanye tekanan intensif terhadap negara Amerika Selatan tersebut. Seorang pejabat AS menyebut, “sebagian dari para tahanan menghadapi tuduhan pidana yang sah,” namun pemerintah AS juga tengah mempertimbangkan untuk menetapkan setidaknya dua orang sebagai warga yang ditahan secara tidak semestinya.
Presiden Nicolas Maduro disebut telah lama menggunakan warga AS yang ditahan sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Washington, yang dianggapnya sebagai musuh utama. Pada awal masa jabatan keduanya, Presiden Trump menjadikan pembebasan warga AS yang ditahan di luar negeri sebagai prioritas. Namun, keputusan pemerintahan Trump untuk menghentikan perundingan dan beralih ke kampanye tekanan militer dan ekonomi terhadap Maduro membuat pembebasan tahanan terhenti. Sejak musim gugur, jumlah warga AS yang ditahan kembali meningkat, bertepatan dengan pengerahan armada laut AS di Karibia dan serangan udara terhadap kapal-kapal yang dituduh Washington mengangkut narkoba atas perintah Maduro.
Penahanan warga AS ini dinilai dapat mempersulit operasi militer AS di dalam dan sekitar Venezuela. Sejumlah warga AS yang sebelumnya dibebaskan dari penjara Venezuela menggambarkan kondisi penahanan yang buruk serta minimnya proses hukum. Banyak dari mereka tidak pernah didakwa secara resmi. Renzo Huamanchumo Castillo, warga Peru-AS, mengatakan dirinya ditahan tahun lalu dan dituduh melakukan terorisme serta merencanakan pembunuhan terhadap Maduro. “Kami baru menyadari kemudian, saya hanya dijadikan alat,” ujarnya.
