Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,48 persen (month to month) dan 0,09 persen (year on year) pada Februari 2025. Angka ini mengejutkan karena terjadi menjelang Ramadan, periode yang biasanya ditandai dengan peningkatan konsumsi dan inflasi. Deflasi ini menjadi yang pertama dalam 25 tahun terakhir sejak tahun 2000. Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi antara lain tarif listrik, beras, daging ayam ras, bawang merah, tomat, dan cabai merah.
Salah satu faktor utama penyebab deflasi adalah kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diberikan oleh pemerintahan Prabowo Subianto selama Januari-Februari 2025. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat di awal tahun, tetapi justru menekan inflasi selama dua bulan berturut-turut. Selain itu, ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal, menilai lemahnya daya beli masyarakat turut berkontribusi terhadap deflasi.
Fithra Faisal menambahkan bahwa ada permasalahan pada sisi permintaan (demand) yang sudah terlihat sejak Desember 2024. Meskipun pemerintah telah melakukan intervensi harga dari sisi suplai, permintaan masyarakat tetap tidak meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan riil mengalami perlambatan yang cukup serius.