Transparency International Indonesia (TII) mengungkapkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perception Index (CPI) Indonesia tahun 2025 berada di skor 34, turun 3 poin dari tahun sebelumnya yang berada di angka 37. Dari 180 negara yang dilibatkan, Indonesia menempati peringkat 109. Sementara, pada tahun 2024, Indonesia menempati peringkat 99.
Beberapa negara yang mendapat skor sama dengan Indonesia yaitu Aljazair, Nepal, Malawi, Sierra Leone, Laos, dan Bosnia & Herzegovina. Menariknya menurut Manajer Program TII Ferdian Yazid, Nepal yang juga mengalami demonstrasi politik tahun lalu disebabkan karena praktik korupsi yang mengakar di sektor publik. Di level ASEAN, Indonesia berada di bawah Singapura dengan IPK 84 (stagnan), Malaysia 52 (naik 2 poin), Timor Leste 44 (stagnan), Vietnam 41 (naik 1 poin). Sementara, Indonesia berada di atas Thailan dengan IPK 33 (turun 1 poin), Filipina 32 (turun 1 poin), Kamboja 20 (turun 1 poin), dan Myanmar 16 (stagnan).
Secara global, Denmark tetap memimpin IPK 2025 dengan skor 89 meski turun 1 poin, diikuti Finlandia (88), Singapura (84), Selandia Baru (81, turun 2), Norwegia (81, turun 3), Swedia (80), Swiss (80, turun 1), Luksemburg (78, turun 3), Belanda (78), dan Jerman yang naik ke posisi 10 besar dengan skor 77; sementara itu, negara dengan skor terendah adalah South Sudan dan Somalia (9), Venezuela (10), Yaman, Libya, dan Eritrea (13), Sudan dan Nikaragua (14), Suriah (15, naik 3), serta Korea Utara (15), menunjukkan bahwa negara berkonflik cenderung lebih rentan terhadap korupsi.
IPK 2025 menggunakan sembilan sumber data global, dengan World Economic Forum EOS mencatat skor tertinggi 65, sementara empat sumber lain mengalami penurunan skor; aspek yang diukur mencakup praktik penyuapan, penyalahgunaan jabatan publik, efektivitas pemerintah memberantas korupsi, perlindungan hukum bagi pelapor dan jurnalis, serta akses publik terhadap informasi, sedangkan yang tidak diukur meliputi persepsi warga, penipuan pajak, aliran keuangan terlarang, pencucian uang, dan aktivitas ekonomi informal.