Kasus influenza A Subklad K telah terdeteksi setidaknya di 13 provinsi Indonesia dan diikuti peningkatan kasus influenza, terutama pada anak. Data Kementerian Kesehatan hingga minggu ke-36 2026 menunjukkan proporsi kasus influenza meningkat dari 35 persen menjadi 46 persen, dengan 42 persen kasus terjadi pada anak usia 0–4 tahun. Kasus Subklad K terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, dan Jakarta, meskipun aktivitas influenza secara nasional masih dinilai rendah dan terkendali. Gejala influenza dapat menyerupai selesma biasa, tetapi demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius, menggigil, nyeri otot, sakit kepala berat, dan lemas dapat memperkuat kecurigaan influenza.
Pada anak, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena influenza dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada balita dan anak dengan faktor risiko. Tanda bahaya meliputi demam tinggi, sulit minum atau menyusu, dehidrasi, napas cepat atau sesak, kejang, lemas, serta kondisi yang semakin memburuk. Jika gejala tersebut muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Sekitar 5–15 persen anak yang terkena influenza dilaporkan memerlukan rawat inap, sementara komplikasi dapat berupa pneumonia, perburukan asma, miokarditis, hingga ensefalopati.
Untuk kasus ringan, penanganan dapat dilakukan di rumah dengan istirahat cukup, banyak minum, makanan bergizi, serta penerapan etika batuk dan cuci tangan. Antibiotik tidak bermanfaat untuk influenza, sedangkan antivirus diberikan berdasarkan penilaian dokter, terutama pada kasus berat. Pencegahan dapat diperkuat melalui vaksinasi influenza bagi anak di atas enam bulan, menjaga ventilasi rumah, menghindari kontak dengan orang sakit, dan menerapkan kebiasaan hidup bersih. Anak yang sakit juga perlu diisolasi di rumah dan tidak dibawa ke sekolah atau tempat bermain hingga pulih, karena dapat menularkan virus sejak sebelum gejala muncul hingga sekitar 10 hari setelahnya.