Pada perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 16.955 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,40% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.886 per dolar AS. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah dan kondisi fiskal Indonesia dalam jangka menengah.
Menurut Ibrahaim, untuk mendukung agenda pertumbuhan di tahun 2029 sebesar 8%, pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang dapat memicu sentimen negatif lanjutan terhadap rupiah. Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh kembali mencuatnya kekhawatiran mengenai kesehatan fiskal Indonesia.
Guna menopang stabilitas rupiah, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026. Selain kebijakan suku bunga, BI juga telah mengerahkan berbagai instrumen lain, mulai dari penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valas, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.