Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 26 lokasi pendidikan kesetaraan, terdiri dari 9 lokasi Program Krisna (Kesetaraan Hadir untuk Masyarakat) dan 17 PKBM, untuk memberi kesempatan kedua bagi warga yang pernah keluar dari pendidikan formal karena faktor ekonomi, pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau kondisi lainnya. Layanan Paket A, B, dan C yang fleksibel dan ditempatkan dekat dengan masyarakat menjadi strategi penting untuk memperluas akses pendidikan. Kebijakan ini relevan karena meskipun partisipasi pendidikan dasar Surabaya tinggi, angka partisipasi murni menurun pada jenjang SMP dan terutama SMA/SMK/MA, menunjukkan adanya tantangan dalam mempertahankan warga agar tetap berada dalam jalur pendidikan.
Namun, keberhasilan pendidikan kesetaraan tidak cukup diukur dari jumlah lokasi belajar, peserta, atau ijazah yang diterbitkan. Tantangan utama justru terletak pada keberlanjutan peserta, kualitas tutor, motivasi belajar, serta kondisi sosial ekonomi warga. Karena itu, pemerintah perlu mengembangkan sistem peringatan dini berbasis data untuk mengidentifikasi warga yang berisiko putus sekolah, sekaligus mengintegrasikan sekolah, PKBM, kelurahan, keluarga, pekerja sosial, dan sektor lainnya. Data pendidikan juga perlu dikembangkan menjadi profil warga yang mencakup usia, pendidikan terakhir, alasan berhenti sekolah, pekerjaan, kondisi ekonomi, dan kebutuhan pembelajaran.
Ke depan, Krisna perlu dikembangkan bukan sekadar sebagai jalur memperoleh ijazah, tetapi sebagai instrumen mobilitas sosial dan peningkatan produktivitas. Pembelajaran dapat diperkuat dengan literasi digital, numerasi keuangan, kewirausahaan, keterampilan kerja, serta kompetensi yang sesuai kebutuhan dunia usaha dan sektor ekonomi kota. Kualitas tutor, insentif, pelatihan, dan evaluasi juga perlu diperkuat, sementara indikator keberhasilan diperluas hingga mencakup kelanjutan pendidikan, peningkatan kualitas pekerjaan, dan pendapatan lulusan. Dengan demikian, pendidikan kesetaraan benar-benar menjadi “jalan pulang” menuju pendidikan sekaligus jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar kesempatan memperoleh ijazah.