Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus memanas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas aluminium di Uni Emirat Arab dan Bahrain. IRGC menyebut fasilitas yang diserang memiliki keterkaitan dengan militer Amerika Serikat. Serangan itu disebut sebagai bentuk balasan atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menghantam infrastruktur industri Iran. Perusahaan Aluminium Bahrain (Alba) mengonfirmasi fasilitasnya menjadi sasaran serangan. Dua karyawan dilaporkan mengalami luka ringan akibat insiden tersebut. Sementara itu, Emirates Global Aluminium (EGA) menyatakan salah satu lokasi mereka di Abu Dhabi mengalami kerusakan signifikan. Sedikitnya enam pekerja dilaporkan terluka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan “harga mahal” atas serangan Israel terhadap infrastruktur strategis Iran. Serangan terhadap industri aluminium dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global. Sebelumnya, sejumlah perusahaan telah mengurangi produksi akibat gangguan logistik, termasuk dampak dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dan komoditas. Ketegangan juga meluas ke negara lain di kawasan. Di Oman, seorang pekerja dilaporkan terluka akibat serangan drone di pelabuhan Salalah. Sementara itu, Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat 10 drone dalam beberapa jam terakhir. Di Kuwait, empat drone juga ditembak jatuh setelah sirene serangan udara berbunyi.
Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Teluk. Pengamat memperingatkan bahwa serangan balasan yang terus berlanjut dapat memicu konflik yang lebih besar. Eskalasi di Iran hampir pasti akan berdampak langsung pada negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk. Selain risiko militer, konflik ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Gangguan terhadap industri aluminium dan jalur perdagangan berpotensi memperburuk tekanan global, terutama di sektor energi dan manufaktur. Beberapa negara dan perusahaan mulai mengambil langkah mitigasi, termasuk penghentian sementara operasi di wilayah terdampak.