Belanja militer dunia kembali mencetak rekor pada 2025. Langkah banyak negara di Eropa dan Asia memperkuat militernya membuat pengeluaran pertahanan global melonjak hingga US$2,89 triliun atau sekitar Rp49.708 triliun (asumsi kurs Rp17.200/US$1). Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan belanja pertahanan global naik untuk tahun ke-11 secara beruntun pada 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah perang, ketidakpastian, dan gejolak geopolitik yang masih berlangsung di berbagai kawasan dunia. Eropa menjadi pendorong utama kenaikan belanja militer global pada 2025. Pengeluaran pertahanan kawasan ini melonjak 14% menjadi US$864 miliar. Kenaikan belanja militer Eropa juga sejalan dengan tuntutan lama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang berulang kali meminta negara-negara Eropa untuk meningkatkan kontribusi pertahanannya.
Meski belanja pertahanan global masih meningkat, laju pertumbuhannya melambat pada 2025. Belanja militer dunia hanya naik 2,9%, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 9,7% pada 2024. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan belanja militer AS sebesar 7,5%. Penurunan terjadi setelah tidak ada bantuan keuangan baru untuk Ukraina yang disetujui sepanjang tahun tersebut. Kendati demikian, AS tetap menjadi negara dengan belanja pertahanan terbesar di dunia, yakni sebesar US$954 miliar. China berada di posisi kedua. Belanja militer Beijing naik 7,4% menjadi sekitar US$336 miliar. Namun, sejumlah pakar menilai angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena China tidak sepenuhnya membuka rincian belanja militernya.
Belanja militer di Asia dan Oseania juga meningkat tajam. Pada 2025, pengeluaran pertahanan negara-negara ini naik 8,1% menjadi US$681 miliar. Ini merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak 2009. Menurut Diego Lopes da Silva, peneliti senior SIPRI, negara-negara sekutu AS di Asia dan Oseania seperti Australia, Jepang, dan Filipina meningkatkan belanja militernya bukan hanya karena ketegangan regional yang sudah lama berlangsung, tetapi juga karena meningkatnya ketidakpastian atas dukungan AS.