Partai politik di Indonesia bisa bertahan lama bila mampu menjaga stabilitas internal, melakukan kaderisasi, serta berinovasi dalam strategi dan kelembagaan. Sebaliknya, partai baru sering kesulitan karena menghadapi ambang batas parlemen yang tinggi, keterbatasan dana, konflik elite, atau krisis tokoh. Sejarah menunjukkan ada partai yang hilang setelah penurunan suara drastis, sementara sebagian lain tetap bertahan dengan konsolidasi dan adaptasi.
Daya tahan partai politik ditentukan oleh kemampuan beradaptasi, distribusi kekuatan internal, dan stabilitas organisasi. Contoh paling jelas adalah Golkar pasca-Reformasi 1998: partai ini cepat menyerap semangat reformasi, memutus hubungan dengan ABRI dan birokrasi, serta menghapus posisi Dewan Pembina Soeharto. Di bawah Akbar Tandjung, pengambilan keputusan dibuat lebih demokratis, sehingga Golkar mampu bangkit dan memenangkan Pemilu 2004 meski sebelumnya mengalami penurunan suara drastis.
Daya tahan partai politik sangat dipengaruhi oleh distribusi sumber daya. Jika pendanaan, jaringan, informasi, dan rekrutmen kandidat tersebar merata, partai lebih mudah beradaptasi saat krisis. Sebaliknya, dominasi satu figur membuat partai rentan. Beberapa partai masih bergantung pada tokoh utama, sementara Demokrat mulai bergeser dari SBY ke AHY. Kemampuan partai untuk bangkit kembali setelah penurunan suara juga berbeda-beda. Namun, Demokrat mengalami penurunan suara tajam sejak 2009 karena konflik internal, sementara PKB berhasil rebound setelah krisis kepemimpinan. Hanura dan PPP hilang dari parlemen akibat perebutan pucuk pimpinan. Gerindra naik berkat figur Prabowo dan elite muda, sedangkan Nasdem tumbuh lewat strategi saintifik dan calon legislatif pindahan. Partai dengan sirkulasi kepemimpinan reguler seperti Golkar dan PKS lebih tahan lama. Ke depan, tren suara dipengaruhi pemilih kritis berpendidikan tinggi serta keuntungan elektorat partai pemerintah yang tidak selalu konsisten.