Gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk dua rumah sakit utama dan tiga puskesmas yang mengalami kerusakan berat. Dalam masa tanggap darurat, Kementerian Kesehatan memprioritaskan keselamatan dan penanganan pasien melalui sistem triase, dengan pasien kritis dirujuk ke rumah sakit, sementara korban dengan luka ringan ditangani di puskesmas maupun tenda darurat.
Untuk menjaga keberlangsungan layanan kesehatan, Kementerian Kesehatan telah mendirikan sedikitnya tiga rumah sakit lapangan di RSUD Ruteng, RSUD Aeramo, dan Stadion Golo Dukal. RS lapangan tersebut didukung tenaga medis dari berbagai daerah, termasuk dokter spesialis ortopedi, bedah, anestesi, dokter umum, serta perawat khusus. Pemerintah juga menargetkan rehabilitasi dan renovasi fasilitas kesehatan yang rusak dapat diselesaikan dalam waktu 8–12 bulan.
Selain penanganan fisik, pemerintah memberikan perhatian terhadap trauma psikologis masyarakat akibat gempa dan gempa susulan. Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan organisasi profesi untuk menghadirkan layanan trauma healing dan konselor bagi masyarakat terdampak, serta mengupayakan ketersediaan psikolog klinis secara bertahap di puskesmas. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gempa susulan, tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman, serta tetap berada di tempat pengungsian apabila kondisi tempat tinggal belum dipastikan aman.