Fenomena bangku kosong di sejumlah sekolah negeri mulai terlihat di berbagai daerah seperti Solo, Semarang, hingga Lubuk Linggau pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor, mulai dari penurunan jumlah anak usia sekolah, perubahan pola permukiman, hingga berkurangnya minat masyarakat terhadap sebagian sekolah negeri. Pemerintah daerah merespons dengan membuka pendaftaran lanjutan, meningkatkan kualitas guru dan fasilitas, serta mengajak masyarakat kembali mempercayai sekolah negeri.
Perubahan preferensi orang tua menjadi salah satu penyebab utama. Banyak orang tua milenial dan Gen Z kini memilih sekolah berdasarkan kualitas pembelajaran, pendidikan karakter, penguatan nilai agama, kurikulum, ukuran kelas yang lebih kecil, hingga komunikasi yang lebih intensif antara sekolah dan keluarga. Sejumlah orang tua yang diwawancarai mengaku lebih memilih sekolah swasta karena dinilai mampu memberikan perhatian lebih kepada siswa, menawarkan program unggulan seperti kurikulum internasional, serta memiliki lingkungan yang lebih mendukung pembentukan karakter.
Pengamat pendidikan menilai fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi hanya mengejar pendidikan yang gratis, tetapi juga berkualitas. Meski demikian, kondisi sekolah negeri yang kekurangan murid tidak semata-mata disebabkan perpindahan ke sekolah swasta. Faktor demografi, regulasi penerimaan murid berdasarkan usia, hingga kecenderungan orang tua memilih sekolah swasta berbasis agama pada jenjang PAUD dan SD juga turut memengaruhi. Karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat kualitas sekolah negeri sekaligus menjadikan sekolah swasta sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan pemerintah tengah mendata puluhan ribu SD negeri yang memiliki kurang dari 60 siswa untuk menyusun langkah penataan. Opsi yang dipertimbangkan meliputi penggabungan sekolah yang berdekatan, penerapan sekolah satu atap, hingga sistem guru multigrade. Di sisi lain, revitalisasi sarana sekolah terbukti mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat. Hal itu terlihat di SDN Cimahpar 5 yang mengalami peningkatan jumlah pendaftar setelah bangunan sekolah diperbaiki sehingga lebih aman, nyaman, dan menarik bagi calon peserta didik.