Berdasarkan laporan ASEAN Stroke Response Insights yang dipaparkan dalam Hospital Management Asia (HMA) 2026, penanganan stroke di Indonesia sering kali mengalami keterlambatan berlapis hingga mencapai 455 menit akibat proses rujukan antarrumah sakit dan identifikasi gejala yang lambat. Meskipun Kementerian Kesehatan terus memperluas kapasitas layanan—seperti trombolisis dan trombektomi—aksesnya masih belum merata dan terkonsentrasi di wilayah Indonesia bagian barat. Kondisi ini membuat prinsip “time is brain” kerap terhambat pada fase prarumah sakit dan transfer pasien.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, para ahli merekomendasikan peralihan dari rujukan berbasis kedekatan geografis (proximity-based referral) menuju rujukan berdasarkan kemampuan fasilitas (capability-based routing), seperti model hub-and-spoke yang diterapkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah di Bali. Selain itu, kesiapan tim medis dan tenaga terlatih yang siaga 20 jam jauh lebih krusial dibandingkan sekadar menambah ketersediaan perangkat medis canggih di rumah sakit.
Pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan tele-stroke turut dihadirkan untuk mendeteksi penyumbatan pembuluh darah besar (large vessel occlusion / LVO) secara cepat serta memperlancar komunikasi antarfasilitas kesehatan. Kolaborasi dengan Siemens Healthineers ini menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebagai penguat sistem agar pasien dapat segera dikenali, diarahkan, dan ditangani dalam waktu sesingkat mungkin.
