Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melanjutkan tren pelemahan hingga menembus Rp 17.700-an pada Senin (25/5/2026). Pelemahan rupiah masih bergulir setelah pemerintah mengumumkan pembentukan badan ekspor bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sentimen internal lainnya yang membuat rupiah tertekan adalah persoalan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Faktor internal ketiga yakni kebijakan yang dinilai kurang pro terhadap pasar sehingga kemungkinan besar akan membuat rupiah terus mengalami pelemahan.
Sementara itu, sentimen eksternal yang memengaruhi fluktuasi rupiah utamanya terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve atau bank sentral AS. Pada Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan sebagian besar negosiasi antara AS dan Iran akan disepakati atas prakarsa Pakistan, yang membuat kemungkinan besar Iran bakal membuka Selat Hormuz. Namun, di sisi lain, AS sendiri di Selat Oman atau Laut Oman kemungkinan masih akan terus menutup diri sebelum kesepakatan tersebut benar-benar ditandatangani antara AS dan Iran.
Sentimen eksternal kedua yakni mengenai kebijakan suku bunga The Fed. Pada Sabtu lalu, salah satu Gubernur Bank Sentral AS Christopher Waller menyampaikan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, ia tidak akan ragu mendukung kenaikan suku bunga. Sehingga, kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga.
