Presiden Prabowo Subianto menyebut para pakar yang mengkritiknya dengan istilah “goblok”, 18 September lalu. Pernyataan Prabowo ini dinilai merendahkan dan berpotensi menciptakan masyarakat yang antisains. Selama hampir dua tahun menjadi presiden, Prabowo setidaknya sudah empat kali mengucapkan makian, antara lain “ndasmu“, “antek asing”, “londo ireng“, dan yang terakhir, “goblok”.
Menurut pakar politik di lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal, kata-kata makian yang disebut Prabowo itu berbahaya karena semakin menunjukkan gejala otoritarian yang melarang perbedaan pandangan. Prabowo pun dinilai tidak percaya pada data, analisis, sains, maupun pandangan yang berbeda. Kapasitasnya Prabowo sebagai kepala negara dianggap kurang pantas dan seakan tidak memahami etika kenegaraan.
Guru Besar Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto menilai penggunaan kata “goblok” terhadap pakar tidak pantas, merendahkan, dan melecehkan, serta berpotensi membentuk masyarakat anti-sains yang tidak rasional. Sementara itu, Firman Noor menyoroti resistensi Presiden Prabowo terhadap kritik yang muncul karena ia terbiasa berada dalam lingkaran partai yang tidak kritis, lingkungan kekuasaan yang protektif terhadap posisi presiden, serta kecenderungan kebijakan yang tidak berbasis riset. Hal ini tercermin dari pernyataan seorang menteri yang menyebut Prabowo mendirikan koperasi desa berdasarkan wangsit, bukan kajian ilmiah.
Namun demikian, pakar politik Bawono Kumoro, punya pandangan berbeda. Ia berkata, meskipun Prabowo merespons pengkritiknya dengan gaya bicara yang disebutnya “blak-blakan“, tapi pada prakteknya Prabowo tidak melakukan hal-hal represif kepada mereka. Terlepas dari itu, Bawono juga tak membenarkan umpatan maupun sindiran yang dilontarkan Prabowo. Sebab, bagaimanapun hal tersebut bakal memunculkan sentimen negatif di publik.
