Pengamat: Serangan Houthi ke Arah Makkah Bukan Hal Baru, tapi Masih Perlu Pembuktian Lebih Lanjut

Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone Houthi sebelum memasuki wilayah udara Makkah pada 16 September 2026. Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Malki, menyebut tindakan tersebut sebagai upaya provokasi dan menegaskan keamanan kota suci merupakan “garis merah”. Namun, Houthi membantah tuduhan itu dan menyebut klaim penargetan Makkah sebagai kebohongan. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) turut mengecam dugaan serangan terhadap Makkah dan Madinah.

Peneliti Asia Middle East Center, Pizaro Gozali, mengatakan dugaan serangan ke wilayah Makkah bukan hal baru karena pola serupa pernah terjadi pada 2016 dan 2017. Namun, ia menilai masih diperlukan bukti untuk memastikan apakah drone tersebut memang menargetkan Masjidil Haram atau Makkah, atau sebenarnya menyasar fasilitas militer dan energi seperti King Fahd Air Base. Pizaro juga menilai kemampuan militer Houthi telah berkembang, termasuk dalam penggunaan rudal balistik, sehingga meningkatkan potensi eskalasi konflik.

Pizaro memperingatkan eskalasi konflik Yaman–Saudi dapat berdampak pada keamanan kawasan, termasuk kemungkinan terganggunya jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Ia juga menduga serangan tersebut dapat berkaitan dengan ketegangan Iran–Amerika Serikat dan menjadi pesan tidak langsung kepada AS melalui Saudi sebagai sekutu utamanya di kawasan. Meski demikian, dugaan keterkaitan dengan Iran serta klaim bahwa Makkah menjadi sasaran langsung masih memerlukan bukti lebih lanjut.

Search