Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah memang berpotensi memberi dampak terhadap perekonomian global maupun domestik, dipicu terganggunya jalur distribusi (supply chain) energi global di Selat Hormuz. Tantangan pasar keuangan domestik semakin besar karena nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang cukup dalam. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan, sektor perbankan turut terimbas secara tidak langsung dari kondisi tersebut.
Dian menyampaikan dampak tidak langsung pelemahan rupiah ke perbankan Indonesia dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit. Dari sisi risiko pasar, meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global serta tekanan terhadap nilai tukar dapat mempengaruhi kinerja portofolio keuangan perbankan, khususnya bagi yang memiliki eksposur besar pada liabilitas valuta asing. Sementara itu, dari sisi risiko kredit, kenaikan harga energi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha, serta menurunkan profitabilitas perusahaan, kemampuan membayar debitur, dan daya beli masyarakat.
Dian melanjutkan, untuk mengukur ketahanan bank dalam menghadapi berbagai potensi shock makroekonomi, OJK dan perbankan masing-masing melakukan stress test secara rutin menggunakan skenario dalam menangani situasi perekonomian, pasar keuangan, dan politik global maupun domestik, termasuk dinamika harga energi. Dian menekankan, OJK juga senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan terkait, termasuk yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), untuk memperkuat bauran kebijakan, monitoring, dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
