Neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan kembali mencatat surplus pada Juli 2026 setelah mengalami defisit pada bulan sebelumnya. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 surplus sekitar 0,96 miliar dollar AS, berbalik dari defisit 0,45 miliar dollar AS pada Juni 2026. Menurut Josua, perbaikan tersebut terutama didorong oleh penurunan rata-rata harga minyak pada Juli yang membuat nilai impor minyak dan gas (migas) berkurang.
Di sisi ekspor, Josua memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia pada Juli melambat menjadi sekitar 5,27 persen secara tahunan, dari 8,63 persen pada Juni. Meski melambat, pertumbuhan ekspor masih diperkirakan positif. Kondisi tersebut ditopang oleh harga minyak sawit mentah (CPO) yang relatif lebih tinggi serta membaiknya permintaan China terhadap produk Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, Josua menilai surplus perdagangan Juli lebih banyak mencerminkan turunnya tekanan impor dibandingkan lonjakan ekspor. Meski kembali surplus, Josua menilai kondisi sektor eksternal Indonesia belum sepenuhnya aman. Menurut dia, neraca perdagangan masih cukup rapuh karena agenda pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjaga permintaan domestik dan impor tetap tinggi. Karena itu, Josua masih memperkirakan Indonesia akan mencatat defisit transaksi berjalan sebesar 2,49 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026.
