Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan potensi pengembangan industri panel surya Indonesia didukung dengan ketersediaan sejumlah sumber daya strategis, salah satunya adalah pasir silika. Keunggulan tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk memperkuat industri energi surya di tengah percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW.
Namun, Airlangga mengatakan sektor panel surya Indonesia juga dibayangi oleh tantangan tarif global. Dia menuturkan, ekspor panel surya Indonesia ke Amerika Serikat kini dikenakan tarif masuk sebesar 110%. Dia mengatakan, pengenaan tarif tersebut seiring dengan lonjakan ekspor produk panel surya Indonesia ke Negeri Paman Sam dalam beberapa waktu belakangan. Dia juga menekankan pentingnya level playing field dalam perdagangan internasional.
Sebelumnya, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman mengatakan PLTS memiliki keunggulan karena dapat dibangun relatif cepat dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan. Karena itu, target 100 GWp tidak semata-mata perlu dilihat sebagai sasaran penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga bagian dari agenda industrialisasi energi. Menurut Saleh, peluang Indonesia menjadi pemain utama industri PLTS di tingkat regional terbuka apabila kapasitas produksi dalam negeri dapat ditingkatkan secara signifikan.
