Ketergantungan AI Ancam Daya Pikir Siswa, Akademisi Ingatkan Risiko “Cognitive Debt”

Dekan Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI, Ummi Azizah, menilai generasi muda perlu dibekali pemahaman yang lebih dalam terkait dampak penggunaan AI, tidak hanya dari sisi manfaat, tetapi juga risikonya. Saat ini, penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di kalangan pelajar mulai memunculkan kekhawatiran baru terkait penurunan kemampuan berpikir kritis. Akademisi mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menimbulkan apa yang disebut sebagai cognitive debt hingga “penyerahan kognitif”.

Pakar pendidikan teknik dari Central University of Technology Afrika Selatan, Prof James Swart, menyoroti fenomena cognitive surrender, yakni kecenderungan pengguna menerima begitu saja informasi dari AI meskipun belum tentu benar. Selain itu, ia juga mengingatkan adanya risiko cognitive debt, yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan jangka panjang terhadap AI.

Menurut dia, AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir manusia, melainkan menjadi alat bantu. Ia mendorong pendekatan penggunaan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam proses belajar. Fenomena ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dalam merumuskan batasan etika penggunaan AI di lingkungan sekolah. Guru dituntut menyesuaikan metode pembelajaran dan evaluasi agar tetap mendorong orisinalitas serta daya pikir kritis siswa di tengah kemudahan teknologi.

Search