Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai rencana pemanfaatan pakaian bekas sitaan atau balpres melalui pencacahan ulang merupakan terobosan kebijakan. Namun, ia mengingatkan skema ini menyimpan risiko moral hazard jika tidak disertai pengawasan yang ketat. Menurut dia, tanpa koridor yang jelas, kebijakan ini bisa disalahgunakan oleh pelaku impor ilegal. Ia menilai ada potensi praktik pembiaran dengan dalih barang akan diolah kembali.
Rizal juga menyoroti dampak banjir bahan baku murah terhadap pelaku industri tekstil dalam negeri. Industri yang memproduksi pakaian baru berpotensi tertekan dari sisi harga dan persaingan. Ia menilai pemerintah perlu memastikan skema pemanfaatan balpres tidak berdiri sendiri, tetapi masuk dalam kerangka ekonomi sirkular yang jelas. Pelibatan pelaku usaha daur ulang formal dinilai penting agar kebijakan bukan sekadar solusi jangka pendek.
Menurut dia, arah utama kebijakan harus tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan lingkungan dan daya saing industri dalam negeri. Rizal mengingatkan efisiensi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kemandirian produksi nasional.
