Harga tahu dan tempe di pasar domestik masih tinggi meski harga kedelai dunia relatif rendah. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam tata niaga impor kedelai nasional, mulai dari lemahnya transmisi harga hingga potensi keuntungan besar di level importir. Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai lonjakan harga di dalam negeri tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor global. Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis mengatakan selisih harga kedelai internasional dengan harga eceran domestik terlalu lebar untuk dijelaskan hanya oleh biaya distribusi dan logistik.
Berdasarkan data NEXT Indonesia Center, harga kedelai impor di tingkat eceran domestik sepanjang Februari 2024 hingga Februari 2026 berada di kisaran Rp 13.300 hingga Rp 15.100 per kilogram. Sementara itu, harga acuan di pasar internasional hanya sekitar Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram. Artinya, terdapat selisih harga sekitar Rp 5.600 hingga Rp 8.500 per kilogram. Menurut Ade, disparitas tersebut terjadi dalam jangka panjang dan mencerminkan tata niaga kedelai nasional yang dinilai belum efisien serta minim transparansi.
Kajian NEXT Indonesia Center juga memperkirakan importir menikmati marjin yang sangat besar. Pada 2025, rata-rata harga kedelai internasional disebut hanya sekitar Rp 6.800 per kilogram, sedangkan harga eceran domestik mencapai Rp 13.900 per kilogram. Dengan selisih Rp 7.100 per kilogram dan asumsi biaya distribusi, asuransi, serta risiko sekitar 30 persen, importir diperkirakan masih mengantongi marjin indikatif sekitar Rp 5.060 per kilogram. Mengacu pada volume impor kedelai Indonesia tahun 2025 yang mencapai 2,56 juta ton, potensi keuntungan importir diperkirakan menembus Rp 12,9 triliun dalam setahun.
