Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan keputusan penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan kebijakan tepat dalam mengurangi beban APBN untuk membayar kompensasi akibat Pertamina harus menjual BBM di bawah harga keekonomian. BBM nonsubsidi memang tidak didesain untuk ditahan karena dapat meningkatkan beban fiskal.
Fahmy menyampaikan kenaikan harga BBM nonsubsidi kali ini cukup tinggi, tetapi diperkirakan tidak akan menaikkan inflasi dan menurunkan daya beli secara signifikan. Alasannya, jumlah konsumen BBM nonsubsidi tidak terlalu besar dan dikategorikan sebagai kelas atas dengan daya beli kuat.
Ia mengatakan pemerintah juga memberikan jaminan bahwa BBM subsidi, Pertalite dan Solar, tidak akan dinaikkan hingga akhir 2026. Dia menilai jaminan tersebut memang memberikan kepastian bagi konsumen dalam jangka panjang sehingga dapat mencegah panic buying. Namun, lanjut Fahmy, penggunaan tolok ukur waktu (time frame) sangat berisiko mengecewakan konsumen jika tolok ukur itu tidak dapat dipenuhi, sehingga jaminan itu menjadi pemberian harapan palsu (PHP). Pasalnya, ucap Fahmy, eskalasi perang Timur Tengah tidak dapat diprediksi (unpredictable) kapan berakhir.
