Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Frans Kongi mengungkapkan, ekspor produk tekstil dan alas kaki di Jateng ke Timur Tengah (Timteng) telah terpukul akibat konflik. Dia mengatakan, risiko keamanan dan tingginya biaya pengiriman membuat para pengusaha lebih memilih menangguhkan dulu ekspor produknya. Menurut Frans, ekspor bisa saja dilakukan. Namun para pengusaha harus membayar biaya angkut lebih mahal.
Frans berharap pemerintah dapat menggiatkan upaya diplomasi untuk mendorong penghentian perang di Timteng. Selain itu, dia pun berharap agar pemerintah dapat memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan yang aktivitas bisnisnya terdampak konflik di Timteng. Misalnya dengan menyediakan insentif pajak.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) July Emmylia mengungkapkan, perang di Timteng telah menunjukkan efek negatif bagi dunia usaha di Jateng. Dia mengatakan, selama sebulan terakhir, nilai ekspor Jateng anjlok 7,2 persen atau sekitar 300 juta dolar AS.
