Kendaraan berat hanya mencakup sekitar tiga persen dari total populasi kendaraan di Indonesia, tetapi menyumbang sekitar 31 persen emisi karbon sektor transportasi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai dekarbonisasi kendaraan berat menjadi langkah penting untuk menekan emisi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit 2026, AHY mengatakan Indonesia menghadapi tantangan memenuhi kebutuhan energi untuk pembangunan tanpa mengabaikan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca. Menurut AHY, pemerintah tidak perlu memilih antara ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan karena keduanya harus berjalan beriringan. Upaya yang ditempuh antara lain memperluas penggunaan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, serta melakukan diversifikasi sumber energi.
Pemerintah, kata AHY, terus mengawal peta jalan dekarbonisasi transportasi melalui pengembangan kendaraan rendah emisi, penggunaan bahan bakar rendah karbon, elektrifikasi kendaraan, modernisasi armada, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan tata kelola. AHY juga menegaskan pemerintah mempercepat penertiban kendaraan over dimension over loading (ODOL) melalui penyusunan strategi bersama pelaku industri dan sektor logistik, termasuk pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan konversi armada sesuai standar keselamatan.
