Pemerintah terus mengupayakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan udara dengan menyiagakan 61 armada udara serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Berdasarkan data Sipongi Kemenhut hingga Sabtu (26/9/2026), terdeteksi 331 hotspot berkategori high confidence secara nasional. Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Selatan (40 titik) dan Sumatera Selatan (38 titik) menjadi wilayah penyumbang terbanyak yang masih membutuhkan perhatian ekstra, sedangkan Riau telah nihil titik api.
Dampak karhutla memicu penurunan kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Palangkaraya (Kalteng) serta Kubu Raya (Kalbar) mencatatkan kualitas udara kategori berbahaya dengan jarak pandang yang sangat terbatas, yakni 50 hingga 150 meter. Mengingat tingginya risiko kesehatan, Kemenhut mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker, serta tidak membakar lahan.
Selain di wilayah prioritas Sumatera dan Kalimantan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan karhutla juga menghanguskan sekitar 62 hektare lahan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Timur sepanjang 26–27 September 2026. Sebagian besar titik api di wilayah tersebut telah berhasil dipadamkan. Masyarakat pun diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, angin kencang, dan banjir.
