KAI Usul Impor KRL Bekas Jepang untuk Atasi Kekurangan Kereta

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin mengusulkan impor kereta bekas dari Jepang sebagai solusi sementara untuk menutup kekurangan rangkaian KRL Jabodetabek. Opsi tersebut dinilai dapat mendatangkan rangkaian dalam waktu lebih singkat sembari KAI memperkuat kapasitas produksi industri dalam negeri.

Bobby mengatakan kebutuhan penambahan kereta meningkat seiring pertumbuhan penumpang KRL Jabodetabek yang mencapai 11,3 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah penumpang harian yang sebelumnya berada di bawah 1 juta kini mencapai sekitar 1,1 juta orang. Di sisi lain, rata-rata usia kereta KAI sudah lebih dari 41 tahun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan penggantian rangkaian menjadi semakin mendesak, sementara kapasitas produksi industri dalam negeri belum mencukupi.

Menurut dia, INKA sebelumnya memproyeksikan mampu memproduksi delapan trainset per tahun untuk pesanan tersebut. Namun, realisasinya hanya sekitar dua hingga tiga rangkaian per tahun. Selain persoalan keterlambatan produksi, KAI juga menarik kembali tujuh trainset buatan INKA yang sudah beroperasi untuk pemeriksaan. Menurut Bobby, KRL bekas memiliki waktu pengadaan yang lebih singkat. Jika KRL baru membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun sejak pemesanan hingga pengiriman, KRL bukan baru disebut dapat didatangkan dalam waktu sekitar satu hingga dua bulan.

Search