Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui tingkat kesalahan atau error untuk pengklasifikasian pengeluaran masyarakat atau desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasonal (DTSEN) mencapai 23%. Direktur Metodologi dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS), Setia Pramana mengatakan, tingkat error ini sebenarnya turun dari sebelumnya yang menyentuh angka 37%.
Setia menjelaskan, DTSEN bersumber dari pemadanan data individu dari Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dan Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), serta data dari Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil). Dalam proses pengolahan data, BPS juga melibatkan sumber lain dari PLN dan BPJS Ketenagakerjaan.
Metode yang dipakai meliputi Proximity Mean Test, kemudian disempurnakan lewat machine learning XGBoost dan Random Forest untuk memprediksi pengeluaran per kapita pada sekitar 90 juta rumah tangga, disertai verifikasi lapangan serta tantangan anggaran, geografi, dan korupsi. Kritikus mengingatkan bahwa mengandalkan indikator pengeluaran sejak 1984 masih menyisakan “cacat”, menyerukan BPS beralih ke data pendapatan, khususnya disposable income, melalui kolaborasi dengan sistem Coretax Direktorat Jenderal Pajak.
