Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta erupsi Anak Krakatau menimbulkan gangguan berlapis terhadap aktivitas ekonomi Indonesia. Selain berdampak pada kesehatan dan mobilitas masyarakat, kedua fenomena tersebut berpotensi mengganggu transportasi, distribusi logistik, hingga perencanaan bisnis. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan karhutla yang terjadi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 memiliki potensi kerugian ekonomi dan kesehatan sebesar Rp 39,29 triliun hingga Rp 123,1 triliun. Angka tersebut merupakan proyeksi risiko, bukan kerugian riil yang telah terkonfirmasi.
Bagi pasar keuangan, kondisi ini menunjukkan bahwa risiko pasar tidak selalu berasal dari pergerakan harga aset. Gangguan iklim, kesehatan publik dan rantai pasok dapat lebih dahulu memengaruhi ekspektasi harga komoditas, perdagangan, nilai tukar dan sentimen bisnis. Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman menilai visibilitas logistik dan kondisi transportasi perlu diperhatikan bersama dengan pergerakan harga komoditas. Gangguan pengiriman dapat meningkatkan biaya, mengubah jadwal ekspor dan memengaruhi ekspektasi pendapatan sebelum dampaknya terlihat dalam perdagangan komoditas atau valuta asing.
