Di tengah gencarnya misi penjelajahan ke Bulan, PBB mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan bahwa kembalinya manusia ke Bulan tidak mengorbankan planet Bumi maupun kelestarian jangka panjang antariksa. Melansir laman resmi United Nations, Senin (20/7/2026) eksplorasi luar angkasa menjadi penting untuk dibahas mengingat sampah antariksa bertambah sangat cepat di sekitar Bumi. Polusi dari satelit tersebut dapat merusak lapisan atmosfer dan ozon.
Perjanjian PBB mendorong penjelajahan yang bertanggung jawab dan pengurangan sampah antariksa karena melindungi ruang angkasa turut menjaga kehidupan dan ekosistem di Bumi. Meskipun sudah ada kesepakatan internasional untuk mencegah pencemaran ruang angkasa, diperkirakan ada sekitar 140 juta potongan sampah yang ukurannya lebih besar dari satu milimeter saat ini mengelilingi Bumi.
Sebagian besar sampah ini terlalu kecil untuk dilacak, tetapi tetap berbahaya dan bisa merusak satelit maupun pesawat luar angkasa. Namun, kekhawatiran terhadap lingkungan ini bukan cuma soal risiko tabrakan saja. Satelit yang sudah tidak berfungsi akhirnya akan jatuh dan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer Bumi. Proses ini melepaskan bahan-bahan logam seperti aluminium, litium, dan tembaga. Para ilmuwan sedang meneliti apakah bahan-bahan ini dapat merusak reaksi kimia di atmosfer, pembentukan awan, dan lapisan ozon.
Untuk mengatasi risiko-risiko baru ini, Badan Lingkungan PBB (UNEP) dan Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa bekerja sama memperkuat pemahaman ilmiah tentang dampak kegiatan antariksa terhadap lingkungan. Kerja sama ini juga bertujuan memastikan agar perlindungan lingkungan dimasukkan ke dalam aturan tata kelola ruang angkasa di masa depan. Di bawah Konvensi Tanggung Jawab PBB tahun 1972, negara-negara yang meluncurkan objek ke luar angkasa wajib bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh objek mereka di Bumi, termasuk untuk peluncuran yang dilakukan secara gabungan oleh beberapa negara.
