Jumlah Penduduk Usia Muda Terus Menurun, Peneliti Ingatkan Dampaknya bagi Desa

Jumlah penduduk usia muda di sejumlah daerah diprediksi akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. Peneliti Senior Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Turro Wongkaren mengatakan, salah satu faktor yang mendorong tren tersebut adalah urbanisasi atau perpindahan penduduk usia produktif dari desa ke perkotaan. Fenomena itu mulai terlihat di sejumlah provinsi, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Dampaknya kini mulai dirasakan di berbagai sektor, salah satunya pendidikan, yang ditandai dengan adanya sejumlah sekolah dasar (SD) negeri yang kekurangan murid baru pada tahun ajaran 2026/2027. Turro mengatakan, penurunan jumlah anak bukan lagi fenomena yang baru terjadi. Menurutnya, tren tersebut sudah mulai terlihat sejak akhir dekade 2010-an di beberapa daerah.

Turro mengatakan, penurunan jumlah penduduk usia muda tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi di perdesaan. Ia menjelaskan, desa-desa tertentu berisiko mengalami fenomena missing middle, yakni berkurangnya kelompok usia produktif yang menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi. Selain itu, penduduk yang tersisa di desa akan didominasi kelompok usia yang lebih tua. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tantangan baru ketika mereka tidak lagi mampu bekerja, sementara generasi muda memilih tinggal di perkotaan.

Search