PMI Manufaktur Jatuh, Ekonom Soroti Daya Beli dan Ancaman PHK

S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 per Juni 2026. Hal ini menandai pelemahan terdalam sektor manufaktur dalam setahun terakhir. Penurunan indeks tersebut dipicu melemahnya permintaan baru yang berdampak pada lesunya volume produksi, aktivitas pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja.

Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan penurunan angka PMI manufaktur Indonesia adalah sinyal aktivitas industri sedang kehilangan momentum. Menurut Yusuf, penurunan tersebut sangat mengkhawatirkan karena PMI yang turun ke zona kontraksi pada Juni 2026 adalah level terendah sejak Juni 2025. Selain itu, indeks manufaktur tersebut juga menjadi kontraksi kedua dalam tiga bulan terakhir.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyampaikan penurunan PMI manufaktur belum tentu langsung berisiko terhadap meningkatnya jumlah PHK. PMI yang turun biasanya diikuti oleh penyesuaian di pasar tenaga kerja, tetapi ada jeda waktu (lag). Namun, apabila tren PMI kontraktif ini berlanjut dan meluas ke sektor lain, Ronny mengingatkan risiko PHK bisa menjadi lebih sistemik, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik.

Search