Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap sekitar 75 persen kebutuhan susu nasional saat ini masih dipenuhi melalui impor. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun menjelaskan tingginya kebutuhan susu nasional masih belum sejalan dengan kemampuan produksi dalam negeri. Akibatnya, Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan susu masyarakat.
Menurut Makmun, kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah dan produktivitas peternakan dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan agar pasokan susu dari peternak dalam negeri terus bertambah sehingga ketergantungan terhadap produk impor bisa berkurang. Ia mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah mendatangkan sapi bunting dari luar negeri. Sepanjang tahun lalu, Indonesia tercatat mengimpor hampir 15 ribu ekor sapi bunting, yang disebut sebagai jumlah terbesar dalam sejarah impor sapi perah nasional.
Saat ini, populasi sapi perah Indonesia tercatat sekitar 540.657 ekor. Sementara untuk mencapai swasembada susu, pemerintah memperkirakan dibutuhkan populasi sekitar 2 juta ekor sapi perah. Selain jumlah sapi, produktivitas susu per ekor juga perlu ditingkatkan agar target swasembada dapat dicapai lebih cepat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata produksi susu sapi perah nasional masih sekitar 12,5 liter per ekor per hari. Angka tersebut dinilai masih tertinggal dibanding sejumlah negara produsen susu utama yang mampu menghasilkan lebih dari 30 liter per hari per ekor.
