Capaian cadangan beras nasional yang kini menembus lebih dari 5 juta ton dinilai menjadi penanda penting bahwa Indonesia mulai memasuki fase baru menuju swasembada pangan yang lebih nyata dan terukur. Menurut anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan kemampuan negara dalam membangun ketahanan pangan nasional berbasis produksi dalam negeri.
Azis menjelaskan, cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog kini telah melampaui 5 juta ton. Dalam dua tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada saat yang sama, penyerapan gabah dan beras petani dalam negeri hingga April 2026 telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Produksi nasional juga meningkat menjadi sekitar 34,69 juta ton pada 2025 atau naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dia menyebut fakta di lapangan menunjukkan stok itu benar-benar ada. Gudang-gudang Bulog di berbagai daerah terisi, distribusi berjalan, dan penyerapan berlangsung. Azis mengungkapkan, dari hasil peninjauan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra ke berbagai gudang Bulog di sejumlah wilayah Indonesia, terlihat pola yang relatif sama, yakni ketersediaan stok yang aman untuk enam hingga sepuluh bulan ke depan, kapasitas gudang yang hampir penuh, hingga kebutuhan tambahan ruang penyimpanan. Namun demikian menurut Azis, ukuran keberhasilan swasembada pangan pada akhirnya bukan hanya soal banyaknya stok beras yang tersimpan di gudang, melainkan sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan ketenangan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
