Laju inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat relatif terkendali di tengah tekanan global, seiring dengan keputusan pemerintah untuk menahan kenaikan harga energi bersubsidi. Di tengah inflasi yang relatif stabil, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pelemahan rupiah terutama dipicu oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.
Nilai tukar rupiah sempat bergerak mendekati Rp 17.400 per dolar AS di pasar spot. Tekanan ini juga dirasakan oleh mata uang negara berkembang lain seiring kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat dan eskalasi konflik geopolitik. Ia menambahkan, ketidakpastian akibat konflik global mulai berdampak pada sektor industri manufaktur. Ketidakpastian tersebut, antara lain akibat konflik di kawasan Timur Tengah, berpotensi mengganggu rantai pasok dan menekan biaya produksi industri, terutama di sektor energi, petrokimia, dan logistik.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi berbasis biaya (cost-push inflation). Risiko ini menjadi perhatian karena dapat menggerus daya beli masyarakat dan menekan aktivitas produksi. Sejauh ini, pemerintah mengandalkan kebijakan subsidi energi untuk meredam dampak kenaikan harga global. Namun, strategi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap fiskal, terutama peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi dalam anggaran negara.
