Tekanan terhadap kelas menengah di Indonesia kian terasa dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan jumlah kelompok ini, di tengah meningkatnya kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class), menjadi sinyal penting bagi arah ekonomi nasional sekaligus tantangan bagi target Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan proporsi kelas menengah menurun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 16,9 persen pada 2024. Sebaliknya, kelompok aspiring middle class meningkat hingga 48,8 persen pada periode yang sama. Padahal, Bappenas sebelumnya memperkirakan Indonesia berpeluang menjadi negara maju jika proporsi kelas menengah mencapai 70 persen dari total populasi.
Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, mengatakan kelas menengah memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan sosial dan ekonomi. Sejumlah temuan menunjukkan kelompok ini mulai mengubah strategi bertahan hidup. Vice President Finance & Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, mengungkapkan satu sumber pendapatan tidak lagi dianggap cukup bagi banyak keluarga kelas menengah.
Research Analyst Katadata Insight Center, Kholis Dana P., menilai kebijakan publik menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan kelas menengah. Menurutnya, pemerintah perlu berperan dalam menjaga daya beli, mengendalikan biaya hidup, memperluas akses pekerjaan, serta menghadirkan perlindungan sosial yang adaptif.
