Harga tiket pesawat domestik kembali menjadi sorotan menjelang musim mudik Lebaran. Biaya penerbangan yang dinilai masih tinggi dikhawatirkan membatasi mobilitas masyarakat serta mengurangi potensi pergerakan ekonomi daerah. Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Indef, Nur Komaria, mengatakan, persoalan mahalnya tiket pesawat hampir selalu muncul setiap menjelang libur panjang, termasuk Ramadan dan Idul Fitri. Menurut dia, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih rute penerbangan yang tidak langsung (transit) melalui negara lain karena lebih murah.
Nur Komaria mencontohkan, perjalanan ke beberapa daerah di Sumatera yang kadang lebih mahal dibandingkan penerbangan ke negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Akibatnya, sebagian pemudik memilih transit terlebih dahulu di luar negeri sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan di dalam negeri. Menurut Nur Komaria, pemerintah sebenarnya telah mengatur batas atas dan batas bawah harga tiket pesawat. Namun, perbedaan harga dengan penerbangan internasional masih sering menjadi keluhan masyarakat. Selain memengaruhi pemudik, sambung dia, harga tiket yang tinggi juga berdampak pada sektor pariwisata domestik. Mobilitas wisatawan ke berbagai daerah berpotensi berkurang jika biaya transportasi terlalu mahal.
Nur Komaria menambahkan pemerintah pun perlu memastikan harga tiket tetap kompetitif sepanjang tahun agar mobilitas masyarakat dan sektor pariwisata dapat tumbuh lebih stabil. Dengan harga transportasi yang lebih terjangkau, sambung dia, potensi ekonomi dari pergerakan masyarakat selama Ramadan dan Lebaran bisa dimanfaatkan secara lebih optimal.
