Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk rapat terbatas di Istana, Jakarta, Senin, membahas sejumlah isu terkait pangan dan energi terutama setelah adanya krisis Timur Tengah (Timteng). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan dirinya akan melaporkan kondisi terkini bidang energi terutama setelah Angkatan Laut Iran menutup Selat Hormuz sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selat Hormuz merupakan salah satu “choke point” yang vital di wilayah Asia Barat, terutama untuk negara-negara eksportir minyak ke negara-negara tujuan di Asia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Dampak tersebut terutama dipicu oleh terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz. Penutupan jalur penting itu dinilai dapat mengerek harga minyak mentah global yang pada akhirnya berimbas pada harga energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurutnya, tekanan harga masih bisa tertahan karena suplai minyak dari AS meningkat serta Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) turut menambah kapasitas produksi. Pemerintah memiliki antisipasi potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah setelah menjalin nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut. Salah satunya melalui langkah PT Pertamina (Persero) yang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal AS.
