Gen Alpha Lebih Suka Ngobrol dengan AI Ketimbang Ngetik, Ini Risetnya

Generasi Alpha (Gen Alpha, kelahiran 2010-2015) saat di dunia kerja pada 2028, diprediksi bakal cenderung lebih memilih memerintah Artificial Intelligence (AI) dengan mengobrol via suara ketimbang mengetik prompt dalam format teks. Prediksi itu diungkapkan dalam studi terbaru London School of Economics (LSE) bersama perusahaan perangkat audio, Jabra. Prediksi tersebut dihasilkan dari temuan gen Alpha yang cenderung lebih suka komunikasi berbasis suara seperti voice note.

Pergeseran itu menurut studi Jabra dan LSE, mencerminkan cara manusia berpikir secara alami, yaitu cepat, berulang dan komunikatif. Tren itu juga ditaksir bakal membuka gerbang kreativitas yang lebih spontan, misalnya bagi orang tua yang berkerja dan orang yang melakukan banyak tugas sekaligus. Selain itu, ada pula peluang interaksi tanpa sentuhan saat bepergian, ketika tren interaksi suara dengan AI generatif semakin populer.

Walau masa depan penggunaan AI dengan suara diprediksi makin populer pada tahun 2028 nanti, praktik ini dinilai tidak akan menggantikan komunikasi tertulis. Prediksi tren mengobrol dengan AI lewat suara, justru dinilai bisa menimbulkan masalah baru. Menurut profesor manajemen Fabrice Cavarretta dari ESSEC Business School, pesan suara kurang mudah dipahami sekilas dan kurang jelas sehingga kata kuncinya cukup sulit dicari. Bertrand Audrin dari EHL Hospitality Business School juga menilai bahwa akuntabilitas perusahaan bisa terganggu bila pesan suara tidak ditranskrip. Pasalnya, pesan suara tidak permanen dan dapat menjadi masalah bagi perusahaan yang bergantung pada riwayat keputusan yang diarsip.

Search