Sebanyak 40 Persen Sampah Nasional Belum Dikelola Maksimal

Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi, menilai persoalan sampah di Indonesia telah bergerak jauh melampaui isu kebersihan. Ia mengingatkan, tingginya volume sampah yang tidak terkelola disebut menjadi ancaman serius, baik bagi masyarakat maupun bagi upaya mitigasi iklim. Apalagi, saat ini memasuki ranah ekonomi, kesehatan publik, serta keberlanjutan lingkungan. Gundy menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang memicu krisis sampah di Indonesia. “Sekitar 40 persen sampah nasional belum dikelola dengan baik. Lebih dari 80 persen di antaranya berakhir di pembakaran terbuka atau open dumping landfill,” ujar Gundy, dalam diskusi bertajuk “Building a Circular Future” yang dihelat PT TBS Energi Utama Tbk, Kamis (13/11/2025).

Menurutnya krisis sampah di Indonesia dipicu setidaknya karena tiga hal. Pertama, pertumbuhan penduduk yang meningkatkan volume sampah rumah tangga. Kedua, perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup yang semakin consumer-driven, ditandai dengan penggunaan kemasan sekali pakai serta meningkatnya konsumsi layanan makanan instan dan pengantaran. Ketiga, keterbatasan infrastruktur dan sistem pengelolaan yang masih “tambal sulam”.

Meski demikian, Gundy melihat peluang ekonomi yang cukup besar. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pengelolaan sampah mulai menarik perhatian pelaku usaha dan investor sebagai bagian dari bisnis berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja hijau. Ia meyakini dengan intervensi yang tepat, krisis ini dapat berubah menjadi peluang ekonomi.

Search