Alih Fungsi Lahan Jadi Sorotan Penyebab Banjir Bali

Banjir besar yang melanda Bali dalam beberapa hari terakhir memunculkan sorotan tajam terhadap tata ruang Pulau Dewata. Derasnya pembangunan hotel, vila, dan cottage disebut sebagai salah satu penyebab utama bencana hidrometeorologi yang merenggut korban jiwa dan menimbulkan kerugian besar. Bali sebagai destinasi wisata dunia mengalami lonjakan pembangunan hotel, vila, dan cottage, terutama di kawasan lereng bukit, sawah, hingga daerah resapan air. Lahan yang seharusnya berfungsi menyerap air hujan berubah menjadi bangunan permanen dan area beton, sehingga daya serap berkurang drastis.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, maraknya alih fungsi lahan dari kawasan persawahan dan resapan air menjadi bangunan pariwisata telah memperlemah daya dukung lingkungan.Menurut Hanif, pembangunan yang tak terkendali sering kali luput dari pengawasan ketat pemerintah daerah. Izin mendirikan bangunan kerap dikeluarkan meski kawasan itu masuk daerah rawan bencana atau berada di jalur resapan air. “Setiap kali landscape terganggu, alam akan mengkalibrasinya, salah satunya lewat bencana,” tegasnya.

Banjir di Bali telah menewaskan 16 orang dan memaksa 562 warga mengungsi. BNPB mencatat lebih dari 120 lokasi banjir dan 18 lokasi longsor tersebar di sejumlah kabupaten/kota, dengan Denpasar menjadi wilayah terdampak terparah. Kondisi banjir saat ini dilaporkan mulai surut, namun tim gabungan masih melakukan pencarian korban hilang, pembersihan material, dan penyedotan genangan air, termasuk di basemen Pasar Badung. Hanif menambahkan, pemerintah pusat telah mengingatkan Gubernur Bali I Wayan Koster agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan izin pembangunan baru. Hanif menilai langkah jangka pendek yang perlu dilakukan adalah pembersihan material banjir, normalisasi saluran air, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Search