[Veri] DSC_4577 - web

Pengumpulan Data Tim Kajian Anggota Wantimpres ke Provinsi NTB

Nusa Tenggara Barat (NTB), bersama-sama dengan Jawa Timur, merupakan provinsi yang menjadi sentra peternakan sapi nasional. Kedua provinsi tersebut menyokong kebutuhan daging sapi nasional. Oleh karena itu, selepas mengunjungi Jawa Timur pada bulan Juli lalu, Tim Kajian Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bapak Jan Darmadi melakukan pengumpulan data dan informasi di Provinsi NTB. Kegiatan yang
dilaksanakan pada Tanggal 6 s.d. 9 September 2017 ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dan karakteristik model peternakan sapi di Provinsi NTB.

Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB mencatat populasi sapi di provinsi tersebut pada tahun 2016 sebanyak 1.092.719 ekor. Populasi tersebut tersebar di dua pulau, yakni Pulau Lombok sebanyak 478.772 ekor, sedangkan Pulau Sumbawa tercatat sejumlah 613.947 ekor sapi.

Bapak Aminurrahman, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB mengatakan, populasi tersebut masih bisa ditingkatkan hingga dua kali lipat mengingat daya tampung lahan di NTB sebenarnya dapat menampung hingga 2.656.294 ekor sapi. Besarnya daya tampung lahan ini terkait dengan kondisi alam NTB yang memang cocok untuk peternakan sapi. Hal ini didukung pula oleh riwayat panjang peradaban beternak masyarakat NTB, baik yang tinggal di Pulau Lombok maupun di Pulau Sumbawa.

Dalam pengumpulan data dimaksud, Tim Kajian menemukan karakteristik pola beternak dan sistem pemasaran sapi yang berbeda antara masyarakat di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Masyarakat di Pulau Lombok sebagian besar memelihara sapi di kandang komunal milik kelompok peternak. Bapak Mattah, Ketua Kelompok Peternak Sapi “Sumber Rezeki” Kabupaten Lombok Tengah, mengatakan kandang komunal, yang mereka sebut sebagai “kandang komplek”, merupakan siasat untuk mengantisipasi pencurian ternak.

Pola beternak ini berbeda dengan masyarakat di Pulau Sumbawa yang mayoritas melakukannya secara ekstensif, yakni menggembalakan sapi di lahan terbuka. Para peternak di Pulau Sumbawa tidak khawatir ternak sapinya akan dicuri karena mereka sudah memiliki kartu ternak. Kartu tersebut memuat informasi mengenai kondisi fisik hingga pemilik ternak sapi tersebut. Oleh karena itu, setiap ternak hasil curian pasti akan langsung teridentifikasi karena proses jual beli di Pulau Sumbawa mengharuskan adanya kartu ternak (VER).