Prof. Sri Adiningsih, Ketua WANTIMPRES bersama dengan Bupati Rote Ndao, Leonard Haning dalam kunjungan kerja ke Desa Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao  (12 /06)

Pembangunan Perdesaan, Daerah Tertinggal dan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Rote Ndao

Pembangunan daerah perdesaan, daerah tertinggal, dan pengembangan pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan pemerintah. Wilayah perdesaan, termasuk daerah tertinggal, memiliki banyak potensi sumber daya alam serta pariwisata yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, hingga saat ini kondisi perekonomian sebagian besar wilayah di kawasan perdesaan dan daerah tertinggal masih relatif tertinggal jika dibandingkan dengan pembangunan di wilayah lain. Potensi yang bernilai ekonomis yang dimiliki kawasan perdesaan dan daerah tertinggal sebagian besar belum dikelola secara baik, termasuk potensi pariwisatanya.

Dalam rangka melihat sejauh mana pembangunan perdesaaan, daerah tertinggal dan pengembangan pariwisata di beberapa daerah di Indonesia, Prof. Dr. Sri Adiningsih, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 11 s.d. 14 Juni 2017. Kabupaten  Rote Ndao dikenal sebagai kabupaten terselatan di nusantara yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terdapat 96 pulau di Rote Ndao dimana 7 diantaranya merupakan pulau yang berpenghuni sedangkan 89 pulau lainnya tidak berpenghuni.

Sebagai salah satu daerah kepulauan di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang dikelilingi lautan, Rote Ndao memiliki banyak daya tarik sebagai daerah tujuan wisata. Laut dan pantai yang indah dan masih alami merupakan tawaran yang sangat menarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Rote Ndao baik bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Selain pantai Nembrala dan Bo’a yang terkenal, Rote Ndao juga memiliki lokasi wisata yang secara perlahan mulai dikelola oleh maysarakat desa melalui BUMDes dengan penggunaan dana desa.

Contohnya adalah BUMDes Ita Esa yang mengelola wisata Pantai Tolanamon. Pantai Tolanamon merupakan sebuah teluk yang menghadap ke arah Samudera Hindia yang cukup ganas. Namun wisatawan tidak perlu khawatir karena posisi teluk tersebut menjorok jauh ke daratan dan diapit tebing-tebing karang yang kokoh di kedua sisinya sehingga teduh seperti kolam renang yang tenang dan bersih, aman untuk mandi dan berenang. Sepanjang bibir pantai terdapat hamparan pasir putih yang bersih dihiasi pepohonan yang rindang dan menghijau. Selain itu juga ada BUMDes Mulut Seribu yang mengelola wisata Pantai Mulut Seribu. Pantai Mulut Seribu merupakan teluk yang memiliki pulau-pulau kecil seperti permainan labirin dimana harus mencari jalan keluar sendiri ketika memasuki pantai tersebut. Wisatawan di bawa masuk ke teluk satu dan keluar di teluk yang lain dengan suguhan pulau-pulau karang yang cantik dan air yang tenang.

Melihat perkembangan yang ada di Rote Ndao, Prof. Sri Adiningsih mengharapkan anggaran dana desa sebesar 112 Miliar pada tahun 2017 dan terus akan ditingkatkan setiap tahunnya dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Hal ini telah dibuktikan di beberapa daerah dimana BUMDes yang mengelola daerah wisata mampu menunjukan hasil yang luar biasa dengan menciptakan banyak lapangan kerja dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Bnk).