Diskusi Terbatas dengan topik “Mencari Solusi Untuk Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Tahun 2025” (31/07)

Mencari Solusi Untuk Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Tahun 2025

Ibu Sri Adiningsih bersama dengan Bapak Jan Darmadi menyelenggarakan diskusi terbatas pada hari Senin, 31 Juli 2017 dengan tema “Mencari Solusi Untuk Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Tahun 2025”. Pertemuan ini dihadiri oleh antara lain Bapak Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan; Bapak Anggito Abimanyu, Chief Economist PT. BRI (Persero); Bapak Arief Budimanta, Komite Ekonomi dan Industri; Bapak Christianto Wibisono, Pendiri Global Nexus Institute; Bapak Yose Rizal Damuri, Head of the Department of Economics CSIS; Bapak Ramli, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)  Cabang Medan, dan beberapa akademis serta Bappeda dari beberapa provinsi di Indonesia.

Dinamika perekonomian Indonesia pasca kemerdekaan telah mengalami berbagai macam pasang surut dengan berbagai kebijakan ekonomi yang menyertainya. Dua puluh lima tahun pertama (1945-1970) sejak proklamasi kemerdekaan adalah awal-awal periode yang sulit bagi Indonesia karena adanya stagnasi, hiperinflasi, dan proses stabilisasi serta konsolidasi pemerintahan. Memasuki kurun waktu dua puluh lima tahun kedua (1970-1995), prestasi pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai diperhitungkan oleh negara-negara lain sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia baru dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 7 persen. Memasuki tahun 1997/1998, krisis ekonomi yang berpusat di Asia telah menggoyahkan sendi-sendi perekonomian bangsa yang telah dibangun selama 25 tahun. Krisis ekonomi Indonesia 1997/1998 juga menjalar dengan cepat menjadi krisis multidimensi dan baru dapat dikatakan sembuh pada akhir 2004 (Boediono, 2016). Pada era 2004-2014, perekonomian Indonesia memasuki era kebangkitan dari krisis yang ditandai dengan catatan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5.7 persen serta mampu bertahan dalam menghadapi krisis keuangan global Tahun 2008.

Saat ini Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terbesar ke-16 di dunia dengan market opportunity sebesar US$ 0.5 Triliun serta jumlah penduduk kelas menengah di kisaran 44 juta jiwa. Studi dari McKinsey Tahun 2012 memprediksikan bahwa di Tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia dengan market opportunity sebesar US$ 1.8 Triliun. Indonesia sebagai salah satu negara middle income countries juga diprediksi mempunyai potensi untuk masuk kedalam kategori kelompok negara high income countries. Studi dari Roland Berger Consulting Tahun 2012 juga memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia di Tahun 2030 diluar BRIC akan dimotori oleh ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand). Prediksi dinamika ekonomi dunia dimasa depan menuntut Indonesia untuk mampu bersiap diri dan beradaptasi dengan baik. Membangun ekonomi nasional di tengah perekonomian dunia yang semakin terbuka dan volatilitas yang semakin tinggi memang bukan hal yang mudah (Adiningsih, 2015).

Menanggapi prediksi-prediksi tersebut, kita perlu berkaca pada kondisi saat ini dan menyadari segala kelemahan dan kekuatan perekonomian Indonesia guna mewujudkan prediksi-prediksi manis di atas. Fakta lapangan menunjukan bahwa posisi Indonesia saat ini masih cukup tertinggal dengan negara-negara yang mempunyai tingkat kategori pendapatan yang sama, meskipun Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang impresif selama 10 tahun terakhir serta proyeksi pembangunan ekonomi yang sangat positif. Laporan Human Development Report World Bank Tahun 2016 yang berisi tentang daya saing SDM menempatkan Indonesia di peringkat 110 dari total 188 negara yang disurvei (masuk dalam kategori medium human development) atau peringkat 5 di ASEAN (dibawah Malaysia dan Thailand). Sejalan dengan itu, laporan World Competitiveness Report WEF Tahun 2016 yang berisi tentang kemampuan negara dalam ber-kompetisi menempatkan Indonesia di peringkat 41 dari 138 negara yang di survei atau peringkat 4 di ASEAN (dibawah Malaysia dan Thailand). Ketidakkompetitifan Indonesia secara umum tersebut juga mempunyai dampak terhadap iklim investasi dan bisnis. Laporan Ease of Doing Business World Bank Tahun 2017 menempatkan posisi Indonesia di peringkat 91 dari total 190 negara di survei atau peringkat 5 di ASEAN (di bawah Malaysia dan Thailand).

Indonesia harus mampu melepaskan diri dari persoalan middle income trap yang sering dihadapi oleh banyak negara ketika akan beralih dari status negara berkembang menjadi negara maju. Permasalahan struktural perekonomian harus diselesaikan dengan segera melalui strategi yang tepat. (e-why)