Tim Warta Wantimpres saat mewawamcari Ibu Astri Ivo (20/7)

Astri Ivo: Berikan Anak Waktu Utama, Bukan Waktu Sisa

Anak merupakan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa, kebanggaan ayah dan bunda, dan oleh karenanya anak-anak perlu diberikan bekal keimanan, kepribadian, kecerdasan, keterampilan, jiwa dan semangat kebangsaan agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berbudi luhur, bersusila, cerdas dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana pandangan Astri Ivo sebagai seorang ibu, yang juga publik figur mengenai hak-hak anak Indonesia, Fikroh Amali dan Dian Kartika, dari Tim Redaksi Warta Wantimpres berkesempatan mewawancarai beliau di kediamannya di bilangan Bintaro (20/7). Berikut petikan wawancaranya.

Apakah arti anak-anak bagi seorang Astri Ivo?

Anak-anak adalah amanah, bukan pilihan. Amanah yang akan dimintakan pertanggungan-jawab. Ketika kita menikah, kita selalu berdoa agar dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah. Ketika anak-anak kita lahir, kita harus memenuhi janji kita. Karena anak yang saleh itu harus dididik. Semua anak terlahir dalam keadaan fitrah. Dia mempunyai kecerdasan dan tabiat sendiri. Selain itu, dia juga mempunyai bibit iman, moralitas, dan ilmu. Anak-anak diberikan oleh Allah untuk memilih menjadi baik atau tidak baik. Maka setiap anak yang lahir tidak ada yang bodoh, tetapi orangtuanya yang harus menjadikan ia anak yang soleh dan solehah. Karena anak tidak lahir dalam keadaan soleh. Anak-anak yang soleh lahir dari orangtua yang soleh dan solehah.

Apa  saja yang harus dipersiapkan oleh orangtua?

Hak anak sudah harus diberikan sebelum mereka ada. Kita harus berbuat baik kepada anak-anak sebelum anak-anak itu ada. Dimulai dari me-milih jodoh yang baik, karena kita dan pasangan kita akan menjadi cer-minan anak-anak kita nantinya. Kemudian kita harus memberikan nama yang baik, memberikan ASI yang terbaik, dan makanan yang bergizi. Akan tetapi karena manusia memiliki dua unsur yaitu jasmani dan rohani, maka anak-anak kita juga harus diberikan akidah yang kuat. Anak-anak harus mengenal siapa Tuhannya. Siapa yang menciptakan dia? Siapa yang memberikan rezeki? Hal-hal semacam itu datang dari orang tua yang memiliki kesiapan menjadi orangtua. Oleh karena itu, orangtua harus memiliki pa-renting skills. Harus mempunyai ilmu untuk menjadi ibu, ilmu untuk menjadi ayah. Sayangnya, orangtua hanya mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi dokter, insinyur, artis atau bahkan presiden. Akan tetapi tidak pernah atau sedikit sekali orangtua yang mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi seorang ayah atau ibu. Ketika mereka menjadi orangtua mereka gagap untuk mendidik anak-anaknya. Perlu keseriusan untuk belajar menjadi orangtua. Selain memahami parenting skills, orangtua juga harus mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi. Komunikasi yang tidak jalan bisa jadi membuat anak frustasi, dan demoralisasi. Mengapa bisa seperti ini? Karena mereka dididik oleh kekerasan juga. Orangtua adalah cermin untuk anaknya. Bisa jadi anak-anak ketika dewasanya melakukan kekerasan, karena saat mereka kecil, mereka mengalami kekerasan dari orangtuanya. Seperti maraknya bulliying sekarang ini. Tugas orangtua tidak mudah. Kalau kita tidak mempersiapkan diri kita dengan ilmu kemampuan untuk mendidik maka akan sulit.

Anak-anak yang hidup di masa perkembangan teknologi seperti saat ini pasti sudah tak asing lagi dengan berbagai gawai. Perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Akan tetapi orangtua bisa meminimalisir hal tersebut. Bagaimana meminimalisasi dampar paparan teknologi ini terhadap anak-anak?

Gawai sudah menjadi keniscayaan anak-anak yang lahir di era informasi teknologi, dimana ada banyak nilai positifnya disamping itu juga ada nilai negatifnya. Sehingga kita sebagai orangtua juga harus memiliki kemampuan mendidik anak-anak di era gawai. Lalu, apa sih manfaatnya dan tantangannya? Apa bahayanya untuk fisik dan otak anak-anak? Karena di dunia maya juga ada bullying. Ada cyber bullying, hoax, pencurian identitas, konten pornografi, pemerasan, dll.  Orangtua harus memberikan akidah yang kokoh. Harus mempunyai kesadaran muraqabah, yakin kita dilihat oleh Allah. Allah melihat yang besar dan kecil, melihat yang nyata dan tidak nyata. Allah mendengar apa yang ada dalam hati kita. Kalau anak kita sudah mengenal Tuhannya, akan lebih mudah untuk mendidik mereka menjadi manusia yang bertanggung jawab. Karena manusia itu adalah khalifah, maka manusia punya misi di dunia, menjadi manusia yang memakmurkan dunia dengan kecerdasan yang Allah berikan. Maka kalau anak salah didik, ia akan kehilangan kecerdasannya. Orangtua wajib mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya. Kata Nabi, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”.

Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih banyak terjadi, di satu sisi masyarakat atas mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, di sisi lain, tidak semua masyarakat kurang mampu mendapatan akses untuk pendidikan. Bagaimana pendapat ibu?

Mendidik anak-anak menjadi pemimpin yang amanah adalah tugas orangtua. Ibu rumah tangga itu bukan ibu yang gak ngapa-ngapain. Ibu rumah tangga itu manusia yang sangat berat tanggung jawabnya. Ia mencetak seorang pendidik, sekaligus seorang pemimpin. Jadi, kembali pada pengasuhan sebenarnya. Kalau ia disiapkan untuk menjadi pemimpin, maka ia akan amanah, karena ia merasa diawasi terus oleh Allah, ia tidak akan berani mengambil yang bukan haknya. Sebenarnya negara kita ini belum maju bukan karena faktor ekonomi, tetapi karena faktor pendidikan, dan sumber daya manusia (SDM) yang tidak siap. Memang benar Pemerintah harus bertanggung jawab untuk kesejahteraan. Seperti halnya ketika Jepang di bom atom, Kaisar tidak bertanya berapa banyaknya prajurit yang gugur, tetapi berapa banyaknya guru yang tersisa. Karena kaisar sa-ngat sadar kemajuan bangsanya erat hubungannya dengan SDM. Jika kita sadar yang membangun bangsa kita adalah anak-anak kita kelak, harusnya akses pendidikan diberikan semudah mungkin. Pemerintah memberikan kelapangan dalam pendidikan.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melihat pendidikan adalah hal yang paling hak untuk kita berikan kepada anak. Sebagai umat muslim, ada zakat dan sedekah. Ada subsidi silang di sana. Keluarga yang tidak mampu dibantu oleh keluarga yang mampu. Atau melalui gerakan orangtua asuh. Ini menjadi pemberdayaan umat. Dengan bersedekah sebenarnya menambah keberkahan. Berkah menjadikan hidup lebih mudah. Ketika kita butuh ada, Insya Allah selalu bisa memenuhi.

Dunia anak-anak adalah dunia yang indah dan penuh keceriaan. Bermain bersama teman-teman sebaya dan tidak terpengaruh dengan tontonan yang mengancam masa depannya, merupakan kewajiban orangtua untuk membimbing anak-anaknya menikmati masa indahnya. Biarkan mereka bermain dan hidup dalam imajinasi aktif mereka. Akan tetapi masih banyak anak-anak yang menjadi korban kekerasan, atau trafficking yang pelakunya justru orang terdekat. Apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah, masyarakat dan orang tua khususnya?

Hak anak selain mendapatkan pendidikan adalah bermain. Kita harus berikan hak mereka. Didik mereka sambil bermain. Usia 0 – 7 tahun, masanya bermain bersama, bagaimana mengajari anak-anak untuk mengenal Tuhan? Lewat bermain, bercerita dan bernyanyi. Usia 7 – 14 tahun, anak-anak dikenalkan dengan adab. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Persiapan menjelang baligh. Pendidikan seks pun pen-ting. Anak-anak harus tahu bahwa dirinya sangat berharga, tidak boleh ada satupun orang yang menyentuhnya. Kalau anak-anak diberikan bekal se-perti ini maka dia akan menjaga. Ketika ada orang lain sekalipun dari kalangan sendiri, kalau dia merasa tidak aman, kita ajari untuk berteriak, lari atau lapor kepada orangtua.

Anak-anak harus tahu bagaimana caranya keluar dari keadaan bahaya itu. Jangan mau diiming-imingi, atau diberikan sesuatu oleh orang asing. Ajarkan anak-anak mana sentuhan yang baik, sentuhan yang tidak baik, atau sentuhan yang membingungkan. Anak usia 7 tahun tidak tahu apakah ia sedang di-bully atau tidak, karena tidak tahu sentuhan yang mem-bingungkan seperti apa. Banyak sekali tugas orang tua. Orangtua harus memberikan waktu utama untuk anaknya bukan waktu sisa.

Indonesia adalah negara yang multikultural, dengan beragam suku, bahasa, dan agama. Apa pesan ibu untuk anak-anak Indonesia untuk cinta kepada bangsanya tetapi tidak kehilangan rasa kesukuannya?  

Anak-anak kalau kenal, maka ia akan sayang. Tak kenal maka ta’aruf (berkenalan). Kalau sudah mengenal maka ia akan tahu kelebihan dan kekurangan kita. Kenalkan anak-anak pada bangsa dan negaranya. Maka ia akan tahu bahwa ia hidup di negara yang multikultural. Kalau dalam Islam, ibadah yang utama itu habluminallah, dan hablumminannas bukan habluminal mukminin. Artinya ia mempunyai kewajiban untuk mencintai hamba-hamba Allah tanpa terkecuali. Kita harus menerima perbedaan, hidup berdampingan dengan damai.

Kalau secara umum, habluminallah, dan hablumminannas, tetapi secara akidah Lakum Dinukum Walyadin Arti Lakum Dinukum (Bagiku agamaku dan bagimu agamamu). (MEL).