Wantimpres, Akademisi, dan Petani Bersama Mencari Solusi Permasalahan Wereng

Beras merupakan komoditas yang penting bagi Indonesia, tidak hanya karena nilai ekonominya, tetapi juga mampu menjaga stabilitas nasional. Oleh karena itulah pemerintah selalu berusaha untuk menjaga produksi beras sehingga tidak terjadi gejolak produksi dan harga. Salah satu tantangan besar dalam upaya peningkatan padi di Indonesia adalah merebaknya wereng di sentra-sentra produksi padi.

Untuk mencari solusi masalah hama wereng, pada tanggal 20 Juni 2017, Bapak Jan Darmadi, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyelenggarakan pertemuan terbatas dengan tema “Penanganan Hama Wereng: Solusi Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi”. Pertemuan tersebut menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, pakar, dan petani.

Salah satu narasumber, Prof. Andi Trisyono dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan bahwa penggunaan pestisida yang terlalu masif dan serampangan menyebabkan wereng menjadi kebal terhadap pestisida. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan wereng dalam jangka pendek adalah dengan menanam varietas yang tahan terhadap serangan wereng. Dr. Hajrial Aswidinoor dari Institiut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan bahwa IPB telah berhasil memproduksi varietas padi yang tahan terhadap serangan wereng yang diberi nama bibit 3S.

Pakar pertanian Dr. Iskandar Andi Nuhung menegaskan bahwa dirinya mendorong pemanfaatan biopestisida untuk mengatasi masalah wereng, karena biopestisida tidak memiliki efek samping bagi lingkungan. Ucung Djawahir, narasumber dari kalangan petani mengingatkan pentingnya kearifan lokal dalam usaha penanggulangan wereng coklat. Para petani di Pandeglang tempat Ucung berasal biasa menggunakan insektisida nabati yang resepnya sudah didapat secara turun temurun untuk mencegah penyebaran wereng. (ARS).