Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini menilai, Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis kepercayaan yang serius. Menurutnya, DPR dan pemerintah semakin dianggap jauh dari aspirasi masyarakat, sedangkan publik makin frustrasi melihat perilaku elite politik yang tidak peka terhadap kesulitan sosial-ekonomi. Titi mengatakan, fenomena yang terjadi di di Indonesia saat ini tidak lahir secara tiba-tiba. Sebab, banyak anggota DPR berhasil duduk di parlemen bukan karena kaderisasi yang panjang atau meritokrasi, melainkan kekuatan finansial dan popularitas. “Ketika fondasi rekrutmen politik rapuh, perilaku politik yang ditampilkan juga dangkal. Tidak heran kalau mereka cenderung mudah melontarkan komentar sembrono atau menunjukkan gaya hidup kontras dengan kondisi rakyat kebanyakan,” jelasnya. Titi menjelaskan bahwa sistem pemilu yang sangat pragmatis ikut memperparah situasi. Meski kompetisi setiap calon ketat, tetapi praktiknya lebih banyak ditentukan oleh modal uang dan ketenaran instan. Menurutnya, lemahnya pengawasan, penegakan hukum, serta integritas penyelenggara pemilu juga turut memperkuat dominasi modal dalam politik.
