Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua terbesar panas bumi di Dunia. Saat ini, Indonesia sudah memanfaatkan 2,7 Giga Watt (GW) energi panas bumi, atau di bawah Amerika Serikat (AS) sebesar 3,6 GW. Bahlil menyebutkan potensi ‘emas uap’ yang dimiliki Indonesia sayangnya belum memaksimalkan potensi tersebut secara maksimal. Hanya 10% dari total potensi panas bumi yang sudah dikelola dalam negeri. Potensi panas bumi di Indonesia juga dinilai memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Bahkan panas bumi disebut sebagai ‘emas uap’. “Makanya, barang ini seperti emas, namanya emas uap. Ini, emas uap,” tegasnya. Namun, pengelolaan potensi panas bumi tidak semudah membalik telapak tangan. Bahlil menyebutkan terdapat berbagai hambatan struktural dan regulasi yang menyulitkan investor. Salah satu fokus pihaknya saat ini adalah memangkas aturan yang tumpang tindih agar investasi di sektor panas bumi menjadi lebih menarik.
